.................................................................................................

Selalu ada pagi. Secangkir kopi. Sepotong cemilan. Dan lalu lintas percakapan. Mulanya pertemuan tidak teratur. Lama-lama jadi rutin. Dan Jansen Sinamo senang hati membagi-bagi pikirannya. Ia percaya pada hukum kekekalan energi. Bahwa keindahan dari menebar rahmat adalah karena suatu saat ia akan kembali kepada penebarnya. Ini lah Candid Talks with Jansen Sinamo, kumpulan laporan coffee morning talk dengan dia, Guru Etos Indonesia. Semoga bermanfaat.Ingin menghubungi Jansen Sinamo? Kontak: Instut Dharma Mahardika, Pulogebang Permai Blog G-11/12, Jakarta 13950; Telp.021-480 `514; Faks 021 4800429

Wednesday, November 11, 2009

Membangun Budaya Produktif dan Etos Kerja untuk Memperkuat Kemandirian dan Ketahanan Ekonomi Bangsa


OLEH JANSEN H SINAMO
(Disampaikan pada Konferensi Gerakan Produktivitas Nasional
10 November 2009, Hotel Bidakara, Jakarta)

Budaya Produktif saya rumuskan sebagai totalitas kesadaran, pikiran, perasaan, sikap, dan keyakinan yang mendasari, menggerakkan, mengarahkan, dan memberi arti pada perilaku dan proses produktif dalam suatu sistem produksi baik yang bersifat ekono-bisnis, tekno-industrial, dan sosio-politik dalam masyarakat.
Budaya Produktif berlangsung dalam konteks kerja, artinya pada setiap peristiwa kerja di dalam ruang kerja (entah itu kerja yang bersifat ekono-bisnis, tekno-industrial, atau sosio-politik) dengan melibatkan seluruh etos kerja para pekerja itu bersama perkakas, sistem, dan manajemen kerja mereka.
Etos Kerja saya rumuskan sebagai spirit, semangat, dan mentalitas yang mewujud menjadi seperangkat perilaku kerja yang positif seperti: rajin, bersemangat, teliti, tekun, ulet, sabar, akuntabel, responsibel, berintegritas, hemat, menghargai waktu, dan sebagainya.
Budaya Produktif seporos dan setangkup dengan Etos Kerja seperti ditunjukkan oleh studi manajemen dan sosiologi, yaitu bahwa Etos Kerja adalah faktor utama bagi Produktivitas. Menggunakan simbol matematis, hubungan keduanya adalah: P = f(EK), artinya produktivitas adalah fungsi etos kerja, sehingga kita bisa mengatakan:
 Etos Politik bertanggung jawab terhadap Produktivitas Politik
 Etos Bisnis bertanggung jawab terhadap Produktivitas Ekonomi
 Etos Akademik bertanggung jawab terhadap Produktivitas Ilmiah
 Etos Keguruan bertanggung jawab terhadap Produktivitas Pendidikan
 Etos Kehakiman bertanggung jawab terhadap Produktivitas Keadilan
 Etos Birokrasi bertanggung jawab terhadap Produktivitas Pelayanan Publik
 Etos Kedokteran bertanggung jawab terhadap Produktivitas Kesehatan
Dan secara ultimat:
 Etos Indonesia bertanggung jawab terhadap Produktivitas Nasional

Tentang produktivitas bisa kita bicarakan di tiga level: personal, organisasional, dan nasional, tetapi pada level manapun ia dikaji, peningkatatan produktivitas demi kemandirian, ketahanan, dan daya saing sistem produktif itu haruslah melibatkan hal-hal berikut ini:
1. Adanya program penyadaran, sosialisasi, dan kampanye nasional: secara berkala dan terus menerus.
2. Hadirnya dukungan dan keteladanan dari lapisan pimpinan puncak, pada setiap strata dan eselon, dari yang tertinggi hingga terendah.
3. Budaya produktif ini harus diterjemahkan menjadi berbagai entitas produktivitas yang lebih membumi seperti UU dan PP tentang produktivitas, sistem manajemen produktif, teknik-teknik produktivitas, software pengukuran produktivitas, sistem pengupahan berbasis produktivitas, dan sebagainya.
4. Ada pengukuran; dilakukan penghitungan atas kemajuan dan peningkatan yang terjadi. Untuk itu diperlukan semacam ‘etosmeter’ sebagai perkakas pengukur ketinggian etos kerja seseorang atau satu organisasi; yang bisa dibayangkan sama pentingnya dengan ‘termometer’ atau ‘tensimeter’ dalam manajemen suhu tubuh dan tekanan darah manusia.
5. Diberi “reward and punishment” yang adil, jelas, dan tegas.
6. Manajemen etos kerja dan produktivitas di atas diintegrasikan ke dalam sistem manajemen korporat (rekrutmen, seleksi, operasi, evaluasi kinerja, remunerasi, promosi, dsb.)

II
Membangun Indonesia dengan Etos Kerja Profesional
(Diolah dari buku Delapan Etos Kerja Profesional hal. 297-310 oleh Jansen H. Sinamo)

Jika anda seorang manajer, eksekutif, atau pemimpin sebuah oeganisasi, maukah anda memiliki SDM yang dicirikan oleh perilaku kerja berikut ini: (1) Mampu bekerja tulus penuh rasa syukur dan keikhlasan. (2) Sanggup bekerja tuntas penuh integritas dan kejujuran. (3) Mau bekerja benar penuh tanggung jawab dan akuntabilitas. (4) Bisa bekerja keras penuh semangat dan antusiasme. (5) Dapat bekerja serius penuh kecintaan dan pengabdian. (6) Senang bekerja kreatif penuh sukacita dan inovasi. (7) Selalu bekerja unggul penuh ketekunan dan kualitas. (8) Senatiasa bekerja paripurna penuh kesungguhan dan kerendahan hati.
Apa jawaban anda?
Sebelum menjawabnya, izinkanlah saya menebak. Anda kira-kira berkata begini, saya duga, “Bung Jansen Sinamo ini gila juga, ideal banget, mana mungkin di dunia nyata, apalagi di Indonesia.”
Jika tebakan saya benar, saya tidak menyalahkan anda. Malahan, itu bukti bahwa anda sangat normal. Maksud saya, realita dunia kerja sebagaimana adanya anda pahami dengan baik. Perilaku kerja di atas memang ideal, bahkan terkesan utopis.
Tetapi, tunggu dulu. Bila dipikirkan lebih jauh, saya kira anda pun setuju bahwa semua perilaku kerja di atas sesungguhnya sangat dibutuhkan oleh setiap organisasi—swasta maupun negara, prolaba maupun nirlaba—agar bisa eksis, sintas berkiprah, dan berjaya di dunia yang terglobalisasikan sekarang ini, zaman yang kita sebut juga sebagai era digital global.
Memang, boleh saja SDM kita membokongi semua kualitas di atas, tetapi organisasi dengan SDM bermutu rendah akan tergilas habis oleh kompetisi, lalu terpinggirkan, kemudian tergusur dari gelanggang permainan. Itu pertama.
Kedua, semua guru sukses pada intinya mengajarkan bahwa keberhasilan adalah buah perilaku kerja yang positif. Di sini, saya tampilkan pendapat tiga guru saja.
Pertama, Napoleon Hill, dalam buku legendaris Think and Grow Rich (1960), menyimpulkan bahwa jika seseorang ingin meraih kekayaan material maka ia harus memiliki kualitas berikut (1) Keinginan besar untuk berhasil. (2) Yakin bahwa sukses adalah haknya (3) Yakin pada kekuatan doa (4) Daya imajinasi yang kuat (5) Daya pikir yang tajam (6) Intuisi yang tajam (7) Sikap mental positif yang ditopang oleh otosugesti yang efektif (8) Pengetahuan khusus yang mendalam (9) Perencanaan yang matang dan teliti (10) Kemampuan membuat keputusan yang jitu (11) Ketabahan menghadapi berbagai kegagalan (12) Kemampuan mengerahkan emosi positif (13) Kemampuan mengubah energi seksual menjadi energi kerja (14) Kemampuan mengelola enam ketakutan: takut miskin, takut sakit, takut dibenci, takut dikritik, takut tua, dan takut mati.
Kedua, Stephen R Covey dalam buku tenar The Seven Habits of Highly Effective People (1989) menemukan adanya tujuh kebiasaan manusia efektif, yaitu: (1) Senantiasa proaktif (2) Memulai sesuatu dari akhirnya (3) Mengutamakan hal-hal yang utama (4) Berpikir win-win (5) Berusaha memahami dahulu agar dipahami (6) Bekerja dengan sinergi (7). Senantiasa memperbarui dan mempertajam diri.
Ketiga, John Wareham dalam buku hebat The Anatomy of Great Executives (1991) mengatakan bahwa seorang eksekutif akan sukses jika memiliki: (1) Kemampuan menampilkan persona diri yang tepat (2) Kemampuan mengelola energi diri yang baik (3) Sistem nilai pribadi dan kontak-kontak batiniah yang jelas (4) Sasaran hidup yang tersurat maupun tersirat secara jelas (5) Kecerdasan (6) Kebiasaaan kerja yang baik (7) Keterampilan antarmanusia yang baik (8) Kemampuan adaptasi dan kedewasaan emosional (9) Pola kepribadian yang tepat dengan tuntutan pekerjaan (10) Kesesuaian antara tahap dan arah kehidupan dengan harapan gaya hidup.
Kesimpulannya jelas: untuk meraih sukses harus ada sikap mental unggul , a superior state of mind, yang mewujud menjadi perilaku kerja yang ideal.
Ini di tingkat personal. Di tingkat organisasional, agar berhasil, diperlukan seperangkat perilaku organisasi yang ideal pula. Saya tampilkan kesimpulan tiga guru lainnya.
Pertama, Tom Peters dalam bukunya Thriving On Chaos (1987) mengemukakan, agar bisa sukses, sebuah organisasi harus mampu: (1) Responsif terhadap kebutuhan pelanggan (2) Berinovasi dengan cepat (3) Memberdayakan seluruh jajaran SDM (4) Menampilkan kepemimpinan pada setiap eselon organisasi (5) Membangun sistem yang lebih otonom dan terdesentralisasikan.
Kedua, Collins & Porras dalam buku best-seller Built to Last (1997) mengatakan bahwa sebuah organisasi akan mampu mencapai sukses signifikan jika ia memiliki: (1) Arsitektur organisasi yang dinamis (2) Mampu mengelola kenyataan yang paradoks (3) Ideologi bisnis yang kuat (4) Sasaran-sasaran dan target-target yang agung (5) Keteguhan sekaligus fleksibilitas (6) Budaya kerja yang dihayati secara fanatik (7) Daya inovasi yang kreatif (8) Sistem pembangunan SDM dari dalam (9) Orientasi mutu pada kesempurnaan (10) Kemampuan untuk terus belajar dan berubah secara damai.
Ketiga, Jeremy & Tony Hope dalam bukunya Competing in the Third Wave (1997) mengemukakan, agar organisasi mempunyai daya saing tinggi sehingga bisa tampil sebagai pemenang, ia harus sanggup menjalankan sepuluh hal berikut ini: (1) Membangun dan menjalankan strategi bisnis yang jitu (2) Menampilkan sajian nilai pelanggan yang bermutu tinggi (3) Berkompetisi dengan basis informasi dan pengetahuan (4) Sistem manajemen yang berbasis pada jaringan dan proses (5) Menemukan fokus pasar yang paling menguntungkan (6) Mengelola organisasi dan bukan mengelola angka-angka (7) Menyeimbangkan kontrol dan pemberdayaan (8) Mengelola asset intelektual (9) Meningkatkan produktivitas berdasarkan nilai tambah (10) Menjalankan proses adaptasi dan transformasi.
Mempelajari konsep guru-guru sukses di atas—yang mereka peroleh melalui studi dan riset mendalam—bisa disimpulkan bahwa perilaku kerja yang ideal, bagaimanapun komposisinya, merupakan sebuah keniscayaan bagi orang atau organisasi yang ingin sintas, sukses, dan berjaya.
Kembali ke pertanyaan saya di awal: bila anda seorang manajer, eksekutif, atau pemimpin, apakah anda ingin mempunyai SDM yang dicirikan oleh delapan set perilaku kerja positif tadi? Saya kira, jawaban anda sudah lebih positif sekarang.
Persoalannya tentu, bagaimana caranya agar bisa memiliki SDM dengan perilaku kerja seindah itu? Saya jawab dengan pendek: bangunlah etos kerja profesional pada semua eselon organisasi anda, tanpa kecuali!

Sukses Personal, Organisasional, dan Sosial
Studi bertahun-tahun tentang kunci sukses akhirnya membawa saya pada kesimpulan tegas: etos kerja adalah akar semua keberhasilan, baik di tingkat personal, organisasional, maupun sosial.
Untuk memahaminya, saya mengajak anda meninjau konsep keberhasilan pada tiga tingkatan itu. Di atas, secara ringkas, saya sudah perkenalkan dua kelompok tokoh penggagas kunci sukses. Kelompok pertama, Napoleon Hill, Stephen R Covey, dan John Wareham. Kelompok kedua, Tom Peters, Collins & Porras, serta Jeremy & Tony Hope. Sebenarnya, ribuan orang sudah menulis puluhan ribu buku tentang kiat, prinsip, hukum, kaidah, asas, atau kunci keberhasilan. Saya memilih enam orang saja untuk mewakili dua kelompok tersebut.
Apa beda keduanya?
Bedanya, kelompok pertama memfokuskan studi mereka pada ranah personal, artinya kunci-kunci sukses yang mereka gagas ditujukan untuk membangun sukses individual. Sedangkan kelompok kedua memfokuskan studi mereka pada ranah organisasional, artinya kunci-kunci sukses yang mereka gagas ditujukan untuk membangun sukses organo-manajerial, terutama perusahaan.
Tetapi, di tingkat yang lebih luas, kita juga membutuhkan kunci-kunci sukses pada ranah sosial, yaitu gagasan konseptual untuk memajukan suatu masyarakat, suku bangsa, dan bahkan negara. Ketiganya penting difahami secara tuntas serta kemudian diintegrasikan dan disinergikan, karena sebenarnya manusia hidup pada ketiga tingkat itu secara serentak dan sekaligus: personal, organisasional, dan sosial.
Etos kerja—akan saya tunjukkan segera—merupakan kunci sukses yang sangat unik, karena ia sekaligus sanggup menjadi fundamen keberhasilan pada ketiga ranah itu.
Tetapi meskipun sangat unik, dan karena itu istimewa, perlu segera saya tegaskan bahwa etos kerja bukan satu-satunya kunci sukses. Yang benar, etos kerja adalah pondasinya. Etos kerja adalah pondasi keberhasilan. Etos kerja adalah akar kesuksesan. Dengan kata lain, etos kerja merupakan sebuah syarat perlu (necessary condition) tetapi belum merupakan syarat cukup (sufficient condition).
Etos kerja sebagai kunci sukses, sejauh ini merupakan kajian sosiologi, dan karenanya terkesan hanya relevan untuk keberhasilan sosial saja. Tetapi saya berpendapat, hal ini tidak benar. Salah satu tujuan saya menulis buku Delapan Etos ialah untuk membawa konsep etos kerja turun dari wilayah sosial menukik ke ruang organo-manajerial serta ke ranah individual. Dengan demikian, etos kerja akan bisa tampil secara lebih luas, tidak saja di ruang-ruang kuliah sosiologi, tetapi juga di ruang-ruang rapat eksekutif dan ruang-ruang perenungan pribadi orang-orang yang ingin naik ke orbit sukses yang lebih tinggi.

Teori Schumacher Tentang Sukses Negara
Seorang tokoh sukses di tingkat negara adalah E. F. Schumacher (1911-1977) yang terkenal, antara lain, karena judul bukunya yang puitis: Small Is Beautiful (1973). Lebih spesifik, Schumacher dikenal sebagai penganjur strategi pembangunan ekonomi secara gradual, dari kecil menuju besar, perlahan seiring dengan kemajuan pengetahuan dan disiplin masyarakat, termasuk institusi ekonomi pendukungnya. Intisari pikiran Schumacher dapat kita simak dari kutipan berikut ini:
Saya yakin bahwa dari berbagai sebab kemiskinan, faktor-faktor material—seperti kekurangan sumber daya alam, modal, dan prasarana—hanya merupakan sebab sekunder saja. Sebab primernya adalah kekurangan di bidang pendidikan, organisasi dan disiplin.
Pembangunan tidak dimulai dengan barang, tetapi dimulai dengan manusia: pendidikannya, organisasinya, dan disiplinnya. Tanpa ketiga komponen ini, semua sumberdaya tetap terpendam, tak dapat dimanfaatkan, dan tetap merupakan potensi belaka.
Adanya negara-negara yang makmur walaupun kekayaan alamnya sangat sedikit, membuktikan betapa pentingnya ketiga komponen yang tidak kelihatan tersebut. Hal ini lebih nyata kelihatan sesudah Perang Dunia II. Betapapun hebatnya kehancuran yang dialami akibat perang tersebut, namun negara-negara dengan tingkat pendidikan, organisasi, dan disiplin yang tinggi kemudian mampu menciptakan keajaiban ekonomi.
Tetapi sebenarnya hal ini hanya ajaib bagi orang yang hanya melihat puncak gunung esnya saja. Puncaknya barangkali hancur, tetapi badan gunung itu—pendidikan, organisasi, dan disiplinnya—tetap masih utuh.
****

Schumacher menolak strategi pembangunan lompat katak. Menurutnya, modal utama pembangunan adalah SDM, bukan sumber daya material atau finansial. Dua yang terakhir ini bersifat sekunder. Tetapi SDM itu primer. Dan membangun SDM tidak mungkin secara lompat katak. Hanya bisa gradual dan kontinual saja.
Tetapi pemikiran Schumacher ini diabaikan orang di negara-negara yang sedang berkembang seperti Indonesia. Pada zaman Orde Baru, Indonesia lebih suka menggunakan teori lepas landas dengan mengadakan lompatan-lompatan pembangunan secara spektakuler. Tetapi terbukti kemudian, tanpa dukungan etos kerja SDM bermutu tinggi serta kualitas profesionalisme organisasi di segala lini, Indonesia akhirnya terjungkal ke ngarai utang raksasa disertai berbagai krisis dan tragedi.
Sekali lagi, SDM adalah kunci utama. Satu inti kualitas SDM yang disebut Schumacher ialah disiplin. Dan, jika disiplin dalam badan gunung es Schumacher saya rampatkan menjadi etos kerja, maka tiga komponen sukses yang tidak kelihatan itu akan tampak seperti gunung es yang 90% tubuhnya tersembunyi di dalam samudera.
1. Pendidikan: Dalam komponen ini termasuk segala jenis pengetahuan, ilmu, teori, prinsip, kaidah, pedoman, konsep, ide, gagasan, paradigma, beserta kiat-kiat teknisnya; baik yang diperoleh lewat pembelajaran formal, nonformal, maupun informal.
2. Keterampilan Organisasional: Dalam komponen ini termasuk semua bentuk kemampuan mengelola organisasi seperti keterampilan perencanaan, eksekusi, pengendalian, pengoordinasian, pemecahan masalah, dan evaluasi untuk perbaikan. Juga, termasuk seluruh talenta kepemimpinan seperti visi, teknik pemberdayaan, komunikasi, inspirasi, dan motivasi. Pokoknya semua keterampilan organisasional yang umumnya berbasis pada kelompok ilmu manajemen dan ilmu organisasi.
3. Etos Kerja: Dalam komponen ini termasuk semua jenis perilaku kerja seperti disiplin, efisiensi diri, komitmen, keuletan, hemat, giat, tabah, ramah, kreatif, positif, inovatif, imajinatif, efektif, proaktif, kerja keras, antusias, integritas, dan sebagainya.
Ketiga komponen utama di atas memang tidak kelihatan. Semuanya berada dalam diri manusia yang tersimpan dalam berbagai bentuk kompetensi, keahlian, dan kemampuan insani operasional. Dan apabila ketiganya digunakan di dalam dan melalui kerja, ia akan keluar dalam bentuk kinerja, prestasi, dan produksi.
Inilah sesungguhnya yang disebut SDM, tepatnya sumber daya yang tersimpan dalam diri manusia, yang dapat digunakan menghasilkan apa saja yang dihendaki manusia.
Hasil khusus dari pemanfaatan ketiga jenis sumber daya manusia di atas adalah barang-barang material dalam berbagai bentuk dan fungsi, seperti kursi, meja, gedung, pabrik, irigasi, jalan raya, lapangan terbang, mesin-mesin, alat-alat transportasi, sistem telekomunikasi, jejaring komputer, dan lain-lain.
Pada tingkat selanjutnya, dengan menggunakan SDM ini, kita akan mampu mengolah benda-benda material yang telah ada—dalam bentuk kekayaan alam asli maupun hasil-hasil olahan kerja tingkat pertama—menjadi barang-barang material lain yang memiliki nilai tambah lebih tinggi melalui serangkaian proses aksi dan produksi. Oleh karenanya, sekali lagi, barang-barang material memang berfungsi sebagai komponen sukses sekunder.
Semua barang material ini bersifat kasat mata, riil, terukur, serta bisa dipindah-pindahkan, dipertukarkan, atau diperjualbelikan dengan perantaraan alat tukar yang kita sebut uang. Di sini, selain berfungsi sebagai modal sekunder, uang juga kemudian berfungsi sebagai bentuk transformasi dan akumulasi dari barang-barang material itu, sekaligus menjadi ukuran kinerja atas kemampuan memanfaatkan SDM bersama sumber-sumber daya lainnya.
Dengan demikian, teori Schumacher di atas sekarang dapat saya modifikasi sebagai berikut.
Pertama, istilah disiplin saya rampatkan menjadi etos kerja seperti telah dijelaskan sebelumnya. Perampatan ini dapat diterima karena disiplin hanyalah salah satu dari sejumlah perilaku positif yang menunjang sukses seperti hemat, tekun, efisien, rajin dan sebagainya. Kelompok perilaku ini memang lazim disebut etos kerja.
Kedua, saya telah mempertajam istilah organisasi menjadi keterampilan organisasional. Penajaman ini pun dapat diterima karena memang itulah yang tersirat dalam kalimat Schumacher, “Pembangunan tidak dimulai dengan barang, tetapi dimulai dengan manusia: pendidikannya, organisasinya, dan disiplinnya.” Jelas, organisasi tidak mungkin berada dalam diri manusia, tetapi sebaliknyalah. Sudah pasti, yang dimaksudnya dengan organisasi adalah keterampilan organisasional.
Ketiga, saya telah mengubah urutan komponen sukses Schumacher menjadi: disiplin, pengetahuan, dan organisasi; atau dalam rumusan baru saya menjadi: etos kerja, pengetahuan, dan keterampilan organisasional. Urutan ini penting karena menjelaskan elemen mana yang lebih fundamental dibandingkan dengan elemen lainnya.
Menurut saya, etos kerja adalah elemen paling primer. Menggunakan ilustrasi baru, ibarat sebatang pohon, maka etos kerja adalah akarnya, pengetahuan adalah batangnya, berbagai keterampilan organisasional adalah cabang dan rantingnya, sedangkan uang dan berbagai barang material adalah buah-buahnya.
Jadi, dengan etos kerja yang kuat (akar yang baik) orang bisa membangun dan meningkatkan pengetahuannya (batang). Berbasis pada pengetahuan, ditopang oleh etos kerja yang baik, keterampilan organisasional pun bisa dibangun (cabang dan ranting). Dan dari ketiga komponen inilah kemudian dihasilkan kinerja yang membuahkan berbagai jenis barang material maupun jasa komersial.
Saya tegaskan bahwa urutan ini tidak bisa dibalik. Artinya tanpa ketiga komponen primer itu, kinerja dan buah-buah materialnya tidak akan muncul. Tanpa etos kerja dan pengetahuan, keterampilan tidak bisa dibangun. Dan tanpa etos kerja yang kuat, pengetahuan pun tidak mungkin diperoleh. Jadi benarlah bahwa etos kerja memang merupakan komponen sukses primer, yaitu yang paling fundamental.
***
Seperti dijelaskan di depan, etos kerja--meskipun merupakan elemen primer--ternyata tidak bisa membawa sukses signifikan apabila pengetahuan dan keterampilan organisasional tidak berkembang secara proporsional. Pendapat ini didukung oleh tesis Mohamad Sobary dalam buku Kesalehan dan Tingkah Laku Ekonomi (1999). Di situ, Sobary mengutip penelitian Clifford Geertz atas kelompok dagang kelas menengah di Mojokuto, Jawa Timur. Dijelaskannya, dengan etos kerja santri yang mereka miliki, kelompok pengusaha Muslim memang berhasil menjadi wong dagang yang cukup berhasil, yaitu menjadi kelas menengah di Mojokuto. Tetapi keberhasilan lebih lanjut ternyata tidak bisa berkembang. Keberhasilan mereka seolah-olah membentur langit-langit seperti dilukiskan oleh Sobary berikut ini:
Namun kemajuan perekonomian Mojokuto tidak berkembang tanpa masalah. Geertz memperlihatkan kelompok pengusaha Muslim tidak kekurangan modal, juga memiliki pangsa pasar yang memadai, juga memiliki semangat yang cukup besar, karena seperti telah kita lihat, kelompok ini memiliki apa yang di Barat disebut sebagai etos Protestan yaitu hemat, rajin, dan bebas.
Yang tidak dimiliki oleh pedagang Muslim Pembaru ini di akhir tahun 1950-an pada dasarnya ada dua hal: kemampuan memobilisasi modal dan kemampuan untuk membentuk lembaga-lembaga ekonomi. Pendeknya, mereka tidak memiliki dukungan organisasional dan struktural. Mereka,— menurut Geertz—adalah pengusaha tanpa perusahaan.
Jadi, etos kerja yang baik tanpa diimbangi pengetahuan yang memadai (misalnya, apa produk yang digemari pasar, apa hambatan memajukan usaha, siapa pesaing-pesaing di pasar, dan sebagainya) dan keterampilan organo-manajerial (misalnya, bagaimana membentuk lembaga-lembaga ekonomi, bagaimana memobilisasi modal, bagaimana menjalankan perusahaan secara efisien, dan sebagainya), maka sukses komersial yang mungkin dicapai akan sangat terbatas.
Sobary mencatat bahwa kasus Mojokuto juga terbukti di tempat lain. Misalnya di Aceh melalui penelitian Siegel dan di Kudus melalui penelitian Castles. Penelitian Sobary sendiri di desa Suralaya atas masyarakat Betawi yang menjadi pokok bahasan bukunya, juga menghasilkan kesimpulan yang sama: mereka tidak memiliki cukup pengetahuan dan keterampilan manajemen, serta gagal mengembangkan organisasi bisnis modern sebagaimana saudara mereka di Barat seperti dikisahkan Max Weber dalam karya monumentalnya The Protestant Ethic and The Spirit of Capitalism (1958).
Apabila etos kerja awal tadi tidak mampu menghasilkan sukses yang lebih tinggi karena dua kekurangan tersebut, dalam konteks persaingan dengan kelompok lain mereka akan kalah bersaing dengan kelompok lainnya, yang pada giliran selanjutnya membawa akibat lebih fatal, yaitu melemahnya etos kerja mereka secara perlahan-lahan. Apa-lagi ditambah dengan faktor-faktor sosial-politik yang tidak menguntungkan—seperti dicatat Sobary—, maka proses pelemahan itu pun berjalan lebih cepat.
Mereka juga gagal dalam persaingan dengan kolompok etnik Cina. Kegagalan mereka ini adalah kegagalan politik dan sosial, bukan ekonomi. Etos kelas menengah yang berada dalam diri pengusaha-pengusaha ini telah menjadi lemah.
Penjelasan ini masuk akal. Jika orang sudah bekerja dengan rajin, jujur dan bersikap hemat, tetapi hasilnya tidak seberapa, bahkan kemudian kalah bersaing dengan tetangganya, secara tidak fair pula, maka semangat kerjanya akan merosot, yang pada gilirannya melemahkan etos kerja yang awalnya lumayan baik.
Dan tampaknya itulah yang terjadi di Mojokuto, Aceh, Kudus, dan Suralaya. Tidak berlebihan menduga bahwa hal ini terjadi secara merata di seluruh Indonesia mengingat di masa Orde Baru struktur perekonomian negeri ini dibangun secara distorsif dengan ketidakadilan sistematik bagi rakyat kebanyakan.

Tiga Strategi Baru Buat Indonesia
Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang? Saya mengusulkan tiga strategi besar yang harus diambil serentak.
Strategi pertama, kondisi sosial politik sebagai lingkungan makro bagi tumbuh kembangnya organisasi dan lembaga-lembaga ekonomi masyarakat harus ditata secara positif, sehingga bebas dari distorsi yang sarat kolusi dan korupsi. Pada dasarnya inilah yang hendak diusahakan oleh gerakan reformasi di Indonesia dengan memaksa mundur Presiden Suharto, melaksanakan Pemilu jujur adil tahun 1999, dan membentuk pemerintahan baru sesudahnya. Cita-cita reformasi adalah penyelenggaraan pemerintahan yang jujur dan bersih, pengembangan demokrasi, pemberdayaan masyarakat, menegakkan kepastian hukum, menjunjung tinggi hak asasi manusia untuk menciptakan masyarakat madani di alam Indonesia Baru. Saya pribadi meyakini alam reformasilah yang sesuai untuk tujuan menumbuhkembangkan organisasi dan lembaga-lembaga ekonomi nasional yang sanggup bermitra, bahkan bersaing dengan negara-negara lain.
Stategi kedua, etos kerja baru harus disosialisasikan dan dikaitkan secara tegas dengan upaya peningkatan ilmu dan pengetahuan masyarakat di segala bidang. Untuk itu predikat sebagai orang berilmu, berpengetahuan, atau orang pandai harus menjadi bagian integral dari visi sukses itu sendiri. Bersekolah dan belajar harus menjadi aspirasi masyarakat secara merata. Meraih gelar keilmuan setinggi-tingginya harus menjadi cita-cita baru bagi masyarakat. Dengan demikian etos kerja dan etos belajar difungsikan menjadi basis motivasi untuk meraih sukses di segala bidang. Dan dengan ini pula masyarakat akan berkembang menjadi masyarakat yang cerdas dan berpengetahuan. Yang harus dicegah ialah pemberhalaan gelar-gelar keilmuan yang tampak mencolok beberapa tahun belakangan ini, dimana gelar-gelar setingkat master dan doktor diperjualbelikan tanpa malu. Para pembeli gelar mengidap sakit jiwa karena mereka dengan bangganya mengenakan gelar-gelar mentereng tetapi hampa bobot. Di pihak lain, para penjual gelar juga kehabisan akal kreatifnya, sehingga demi uang mereka rela menistakan gelar-gelar yang penuh kehormatan itu. Bukan itu yang kita perlukan. Yang kita cari adalah kebanggaan sehat karena prestasi keilmuan yang sejati sehingga patut menyandang gelar yang berbobot pula.
Strategi ketiga, pengembangan etos kerja harus dilaksanakan dalam konteks pendidikan dan pelatihan manajemen dalam arti seluas-luasnya untuk memperoleh keterampilan organisasional bermutu tinggi bagi seluruh warga organisasi. Ini harus dilakukan mulai dari tingkat negara, birokrasi, dunia bisnis, dunia pendidikan, bahkan semua jenis organisasi dalam masyarakat. Dengan demikian semua organisasi, besar-kecil, swasta-pemerintah, prolaba-nirlaba, berkembang ke arah profesionalisme yang semakin tinggi dengan basis pengetahuan dan pembelajaran yang berkesinambungan. Intinya adalah proses pengembangan mutu SDM dalam organisasi dan masyarakat secara luas. Di sini, pengembangan pribadi, pengembangan organisasi, dan pengembangan sosial berlangsung secara simultan dan saling mendukung sehingga efek sinergi pengembangan masyarakat akan terjadi secara besar-besaran.
BIODATA
 Nama Lengkap : Jansen Hulman Sinamo
 Tempat/Tgl. Lahir : Sidikalang, 2 Juli 1958
 Status Keluarga : Menikah dan dikarunia 2 anak
 Pendidikan Formal : Sarjana Fisika - ITB Bandung (Lulus 1983)

Pengalaman Kerja
 2000 – 2009: Institut Mahardika, PT Spirit Mahardika (Direktur)
 1997 – 1999: Omni Leadership (Direktur)
 1988 – 1996: Dale Carnegie Training, PT Dasindo Media (Managing Executive)
 1986 – 1987: World Vision International Indonesia (MIS Manager)
 1983 – 1985: PT Matra Delta, PT Horizon Indonesia (Seismic Engineer)

Pengalaman Mengajar
 Dosen Etika (1984-1989), ITB Bandung
 Dosen Negosiasi Bisnis (1992-1996), MM-IPB Bogor.
 Membawakan pelatihan, seminar, da lokakarya bisnis kepada hampir semua jenis industri dan grup usaha di Indonesia, diantaranya: American Express, BASF, BCA, Caltex (Chevron), Astra Group, Kalbe Group, Sinar Mas Group, Lippo Group, Rodamas Group, Konimex Group, Tunas Group, Salim Group, Ometraco Group, Gajah Tunggal Group, XL; termasuk BUMN seperti Telkom,Indosat, Jiwasraya, BNI, BRI, Bank Mandiri, Jamsostek, PTPN, dan lain-lain.

Buku
 Berselancar di Atas Gelombang Perubahan
 Delapan Etos Kerja Profesional
 Kafe Etos
 Kepemimpinan Visioner Kepemimpinan Kredibel
 Mengubah Pasir Menjadi Mutiara
 Strategi Adaptif Abad 21

Modul Pelatihan
 Dynamic Selling Skills, Human Excellence, Human Resources
 Leadership Training for Managers, Manager Plus
 Professional Work Ethos
 Salesmanship Training, Superior Customer Service
 Superior Motivation, Supervisor Plus, Systematic Innovation
 Teambuilding, Training for Trainers

Kontak
 Kantor: Jln Pulogebang Permai G-11/12 – Jakarta 13950
 Email: guruetos@cbn.net.id
 Tel 021-4801514; Fax 021-4800429; HP 0811-940-709

Wednesday, November 4, 2009

Manusia, Kota, dan Etos Pembangunan


Oleh JANSEN H. SINAMO

Disampaikan pada seminar internasional Knowledge City: Spirit, Character, and Manifestation, Danau Toba Convention Hall, Medan, 13-14 November 2007.


To change life, we must first change space.
-- Henri Lefebvre, French writer



Meskipun Homo sapiens sudah jadi spesies unggul sejak 40.000 tahun yang silam tetapi kota sebagai bentuk organisasi sosial baru muncul kurang dari 10.000 tahun yang lalu. Sebelum itu, manusia hidup sebagai kelompok-kelompok nomaden yang terus bergerak sebagai pemburu dan pengumpul hasil-hasil alam untuk makanan mereka. Kelompok-kelompok manusia itu tidak memiliki pemukiman tetap karena mereka belum sanggup melumbungkan surplus makanan secara memadai. Hidup mereka sangat marjinal: bertahan hari lepas hari melulu oleh kemurahan alam.

Namun selepas era itu, di berbagai wilayah dunia, gejala kota akhirnya muncul juga ketika jumlah anggota kelompok-kelompok nomaden itu semakin bertambah dan mulai bermukim. Hal ini dimungkinkan oleh tiga faktor: ketersediaan pangan di wilayah itu, bertambah baiknya pengorganisasian kerja di dalam kelompok-kelompok tersebut, dan berkembangnya pertukaran komoditas atau perdagangan antarkelompok. 

Ketersediaan pangan di berbagai wilayah yang disebut di atas bisa terjadi karena iklim Bumi semakin hangat. Sesudan zaman es terakhir -– diperkirakan usai sekitar 13.000 tahun silam -– tanah terus menghangat sehingga tumbuhan baru bermunculan, khususnya berbagai jenis tanaman pangan. Inilah awal zaman pertanian. Lumbung-lumbung dibangun untuk menampung surplus pangan. Hewan-hewan liar dijinakkan dan diternakkan, terutama kambing, domba, kuda, kerbau, dan sapi. Teknologi pengolahan tanah pun berkembang dengan memanfaatkan tenaga hewan-hewan tersebut. Semua itu menyumbang terhadap surplus pangan lebih lanjut. Akibatnya, pemukiman semakin berkembang dan semakin terjamin. Jumlah penduduk bertambah karena semakin cukupnya makanan, dan ragam pekerjaan non-petani bertambah pula seperti seniman, ahli bangunan, ahli irigasi, berbagai jenis tukang, pedagang, dan lain-lain. Singkatnya, proto-kota pun lahir.

Diversifikasi sosial juga muncul. Lahirlah kelas elit: para penakluk, kaum bangsawan, dan agamawan yang memerintah dan menentukan tata kehidupan bersama dalam kelompok. Mereka menjadi kelas penguasa atas kaum tani, penata irigasi, gembala, pedagang, tukang, dan seniman. Demi keperluan hidup bersama dan kelanggengan kelas penguasa itu dibangun dan diperkenalkanlah bangunan-bangunan publik, tata upacara dan peribadatan, alat tukar, sistem perpajakan, dan metoda akumulasi kekayaan. Pasar pun lahir. Perdagangan pun marak. Kota pun kian berkembang. 

Aksara juga ditemukan, demikian pula ilmu hitung dan ilmu ukur yang dipakai dalam perdagangan, pembangunan irigasi, pertukangan, dan pembangunan kota. Ilmu-ilmu prediktif juga muncul untuk menentukan musim tanam, musim panen, hari-hari raya, dan saat untuk berperang. Lahir pula ekspresi seni dalam arsitektur kota dan bangunan-bangunan publik. Maka kota pun semakin ramai.

Demikianlah kota Yeriko muncul di wilayah Palestina yang sekarang sekitar tahun 7000 SM yang tumbuh dari desa menjadi kota dengan sekitar 3.000 penduduk. 
Antara tahun 4000-3500 SM kota besar pertama dengan populasi sekitar 25.000 muncul di wilayah Mesopotamia, di lembah sungai Tigris dan Eufrat: Babel dan Ninive. Dua kota itu sudah berkubu. Rumah-rumah dibangun dengan batu-bata yang terbuat dari lempung yang dibakar. Meski jalan-jalannya naik-turun-berkelok, sempit, dan tanpa perkerasan yang memadai, alat angkut beroda sudah dipakai.

Di Mesir, di sepanjang lembah sungai Nil, kota sudah ada sejak tahun 3300 SM seperti Tmn-Hor, Tell al-Rub, Pr-Bastet, Hwt-ka-Ptah, To-She, Akhetaten, dan Kemet. Tetapi dunia lebih tahu tentang piramida-piramida Mesir daripada kota-kota kuno di atas.

Di India ada dua kota utama, Harappa dan Mohenjo-Daro, yang muncul sekitar tahun 2500 SM. Jalan-jalannya lurus sehingga membentuk blok-blok pemukiman berbentuk segi empat. Sistem pembuangan sampah dan air limbah sudah dikenal. Inilah kota pertama yang menunjukkan tanda-tanda pembangunan berencana. Barat kota menjadi pusat religius, politik, dan pendidikan. Petani tinggal di luar tembok kota di dekat perladangan. Kelompok miskin menempati pinggir kota tetapi masih berada di dalam tembok. Pedagang dan seniman tinggal di dekat pusat kota, sedangkan bangsawan, agamawan, dan punggawa kerajaan menempati wilayah pusat kota. 

Di Yunani, kota muncul pada sekitar tahun 2000 SM seperti Sparta, Thebes, Argos, Delphi, dan Olympia. Athena jadi kota utama sekitar tahun 800 SM. Struktur kotanya berbentuk lingkaran. Jalan-jalannya berpangkal dari pusat dan memencar keluar secara radial. Bagian-bagian kota juga memencar dari pusat sehingga setiap kelompok penduduk tinggal dengan jarak yang sama dari pusat kota. 

Di Cina kota muncul antara tahun 2000-1500 SM seperti Chang'an, Fanyang, Jiankang, Lingzhou, Xiangyang, Yinxu, dan Zhaoge.

Kota Roma dibangun antara 700-600 SM. Kelak, ketika kekaisaran Romawi semakin berjaya Roma pun menjadi kota internasional pertama di dunia.

Di Amerika Tengah -- Meksiko, Guatemala, Honduras, dan El Salvador -- kota-kota mulai muncul sekitar tahun 200 SM. 

Di Eropa kota-kota bermunculan sejak abad ke-4 dan satu per satu menjadi kota industri mulai abad ke-18. Inilah permulaan kota-kota modern yang kita kenal sekarang. Sesudah itu, gejala desa yang mengalami proses kotanisasi merambah dengan cepat ke seluruh dunia. Dan urbanisasi pun menjadi sebuah gejala global. Dewasa ini dunia telah memiliki ratusan kota raksasa: metropolitan dan megapolitan.


Kota Raja, Kota Tuhan
Tidak banyak kota yang diketahui siapa arsitek pembangunannya? Hal ini wajar sebab fenomena kota sebenarnya lebih masuk akal difahami sebagai fenomena “emergence” dimana pemukiman kecil berubah menjadi desa, berkembang perlahan-lahan, dan akhirnya menjadi kota; dan bukan fenomena arsitektur, dimana seorang arsitek agung merancang, merencanakan, dan membangun sebuah kota dari nol sampai selesai. 

Namun demikian, ada kekecualian. Tradisi menyebutkan kota Babel dibangun oleh Sargon, seorang raja yang hidup sekitar abad ke-24 SM. Neo Babel dibangun -- mungkin lebih tepat diperluas dan ditata ulang -- oleh raja Nebukadnezar (630-562 SM). Kitab Daniel dalam Perjanjian Lama mencatatnya sebagai berikut: “Semuanya itu terjadi atas raja Nebukadnezar; sebab setelah lewat dua belas bulan, ketika ia sedang berjalan-jalan di atas istana raja di Babel, berkatalah raja: “Bukankah ini Babel yang besar itu, yang dengan kekuatan kuasaku dan untuk kemuliaan kebesaranku telah kubangun menjadi kota kerajaan?” 

Legenda juga menyebutkan Roma dibangun oleh Romulus dan menjadikannya sebagai ibukota kerajaannya.

Catatan yang lebih dapat dipertanggungjawabkan adalah kota-kota yang dibangun oleh Iskandar Agung (Alexander the Great: 356-323 SM) dalam ekspedisi penaklukannya selama sebelas tahun mulai dari Makedonia sampai ke Mesir melintasi Asia Barat hingga ke India bagian timur. Di setiap wilayah Alexander meletakkan rancangan, memulai pembangunan, atau menata ulang kota yang ditaklukkannya sesuai dengan gaya dan selera seni dan arsitektur Yunani. Kota-kota yang dikaitkan dengan jenderal akbar ini antara lain Alexandria (Mesir), Iskandiriyah (Irak), Alexandria Asiana (Iran), Alexandria Ariana (Afganistan), Kandahar (Afghanistan), Alexandria Bucephalous (Pakistan), Alexandria Eschate (Tajikistan), dan Iskenderun (Turki).

Kota-kota kuno yang dibangun oleh atau atas perintah seorang raja mempunyai fungsi yang mirip: sebagai lumbung kekayaan, pusat kekuasaan, dan lambang kemuliaan, bahkan sebagai kota Tuhan. Babel atau Babylon misalnya, nama kota itu berasal dari bahasa Akkad, babilu, yang berarti gerbang para dewa. Dalam konsep kuno, raja dianggap sebagai representasi Tuhan, bahkan titisan Tuhan. Maka kota raja juga berarti kota Tuhan. Vatikan, Mekah, dan Yerusalem sampai hari ini tetap disebut kota suci (milik Tuhan) bagi para pemeluk teguh agama-agama samawi.

Namun demikian, tidak banyak kota-kota kuno itu yang bisa bertahan hingga kini. Tiga kota yang disebut belakangan adalah sedikit yang menjadi kekecualian. Kebanyakan telah runtuh dan terbenam dalam timbunan debu tebal dari abad ke abad sehingga hanya para arkeolog saja yang mampu merekonstruksinya. 

Problem utama kota-kota kuno hingga akhirnya ditinggalkan penduduknya, lalu kosong, dan menjadi reruntuhan adalah buruknya sanitasi. Tumpukan sampah dan limpasan air limbah jadi sumber berbagai penyakit menular dan menjadi epidemi yang membinasakan warganya. Selain itu, api yang tidak bisa dikontrol kemudian marak menjadi kebakaran besar sehingga menghanguskan seluruh kota. 

Tetapi perang merupakan sebab utama kehancuran kota-kota kuno. Yerusalem misalnya, dalam sejarahnya yang panjang sejak abad ke-18 SM sempat tiga kali dihancurkan melalui perang: pada tahun 586 SM oleh raja Babel, Nebukadnezar; pada tahun 70 oleh penguasa militer Romawi di Palestina, Jenderal Titus; dan pada tahun 1480 oleh pasukan Mongol di bawah pimpinan Jenghis Khan yang datang merambah buas dari Asia Tengah. 

Tapi Yerusalem terhitung beruntung: ia selalu dibangun kembali. Kota-kota kuno seperti Khartago, Sukhothai, Sriwijaya, Ayutthaya, Mohenjo-Daro, Harappa, Karakorum, Akkad, Ur, Babel, Ninive, Persepolis, Troya, Machu Picchu, atau Pompeii kini tinggal hanya reruntuhan, bahkan telah hilang terbenam.

Berbeda dengan kota-kota kuno, problem kota-kota modern terutama disebabkan oleh tekanan populasi dan manajemen kota yang buruk. Soal tekanan populasi ini dapat kita apresiasi dari data berikut ini. Jika pada sekitar tahun 8000 SM penduduk dunia hanya 100 juta, pada permulaan abad Masehi masih 300 juta, tetapi sejak abad ke-19 jumlah itu meningkat dengan sangat pesat: tahun 1800 (1 milyar), tahun 1930 (2 milyar), tahun 1962 (3 milyar), tahun 1974 (4 milyar), tahun 1987 (5 milyar), dan tahun 2000 (6 milyar). Ketika urbanisasi berlangsung justru oleh karena daya tarik kota itu sendiri maka pada titik jenuh tertentu tekanan populasi mengakibatkan komplikasi berbagai masalah bagi kota tersebut dan segenap warganya. 


Kota Rakyat, Kota Publik
Era kota raja dan kota Tuhan berakhir sudah. Kini kota-kota di dunia adalah kota rakyat, kota publik, atau kota warga. Artinya, kota adalah urusan publik, urusan segenap warga kota. Dikatakan tegas: setiap kota harus mampu memenuhi aspirasi dan kebutuhan warganya. Dikatakan lain: kota sekarang dinilai tidak lagi berdasarkan selera raja, selera penguasa, tetapi dinilai berdasarkan keterpenuhan aspirasi publik, yakni ruang hidup yang berkualitas bagi segenap warga kota. 

Dewasa ini, sejauh menyangkut kualitas hidup warganya, Zurich dan Geneva adalah dua kota terbaik di dunia. Demikian hasil survei Mercer Consulting yang diterbitkan pada bulan April 2007. Vancouver menduduki nomor tiga dan berturut-turut diikuti oleh Vienna, Auckland, Düsseldorf, dan Frankfurt. Penilaian itu didasarkan atas tiga puluh sembilan determinan kualitas hidup manusia yang dikelompokkan dalam sepuluh kategori berikut ini:
1.Political and social environment (political stability, crime, law enforcement, etc.)
2.Economic environment (currency exchange regulations, banking services, etc.)
3. Socio-cultural environment (censorship, limitations on personal freedom, etc.)
4.Health and sanitation (medical supplies and services, infectious diseases, sewage, waste disposal, air pollution, etc.)
5.Schools and education (standard and availability of international schools, etc.)
6.Public services and transportation (electricity, water, public transport, traffic congestion, etc.)
7.Recreation (restaurants, theatres, cinemas, sports and leisure, etc.)
8.Consumer goods (availability of food/daily consumption items, cars, etc.)
9.Housing (housing, household appliances, furniture, maintenance services, etc.)
10.Natural environment (climate, record of natural disasters, etc.)

Jika hal-hal di atas merupakan faktor penentu bagus tidaknya sebuah kota, maka dikatakan sebaliknya, kota yang buruk adalah kota yang...
1.Fasilitas kesehatannya tidak memadai;
2.Fasilitas pendidikannya tidak memadai;
3.Infrastruktur dan fasilitas angkutan massalnya buruk;
4.Jalan-jalan besarnya tidak memadai;
5.Jalan-jalan kecil buat warga pejalan kaki tidak ada atau dibiarkan tak terawat;
6.Kantong-kantong penduduk miskinnya banyak;
7.Keamanannya rendah atau sudut-sudut kota tertentu keamanannya rendah;
8.Kelompok-kelompok preman yang memeras warga kota banyak;
9.Keterlibatan warganya dalam memelihara fasilitas kota rendah;
10.Ketersediaan air bersih, listrik, dan teleponnya rendah;
11.Korupsi di jawatan-jawatan publik di kotapraja tinggi;
12.Kotanya semrawut, tidak ada zonasi kota yang terencana dan tersistem;
13.Peredaran dan penggunaan narkoba dan minuman keras tidak terkontrol;
14.Permusuhan dan perkelahian antarkelompok warga kota tinggi;
15.Sektor kumuhnya banyak;
16.Tingkat kemacetannya tinggi;
17.Tingkat krimininalitasnya tinggi;
18.Tingkat penganggurannya tinggi;
19.Tingkat polusinya tinggi; dan
20.Wilayah lampu merah dan perjudiannya berkembang tidak terkontrol.


Pembangunan Kota dan Etos Pembangunan
Meskipun kota-kota modern kini adalah kota publik, urusan publik, dan bukan kota raja apalagi kota Tuhan, tapi secara politik warga kota kemudian menyerahkan tanggungjawab pemerintahan dan manajemen kota mereka kepada seorang walikota melalui proses pemilihan umum. Itu berarti walikota adalah orang yang menjadi wali-pemegang-amanah seluruh warga kota agar kota mereka dikelola sebagai kota yang baik. 

Selanjutnya, proses, program, dan proyek untuk mewujudkan aspirasi seluruh warga kota itu secara teknis diserahkan kepada para kontraktor pembangunan dan pemeliharaan kota. 

Tetapi secara profesional perwujudan semua aspirasi warga kota di atas diserahkan kepada para arsitek. Inilah sebuah profesi yang semakin penting peranannya dalam menjawab masalah-masalah perkotaan dan pemukiman di seluruh dunia.

Tri Harso Karyono, guru besar arsitektur Universitas Tarumanagara dan peneliti utama pada Balai Besar Teknologi Energi (B2TE BPPT), Serpong, dalam artikelnya “Pemanasan Bumi dan Dosa Arsitek”, di harian KOMPAS, Selasa, 11 September 2007, mengatakan: Arsitek berperan besar dalam [pemanasan] Bumi. Kekeliruan tangan arsitek akan memanaskan Bumi dan berpotensi lebih besar membasmi manusia dibandingkan dengan kemampuan teroris. 

Sedemikan dahsyat peran arsitek modern bagi kehidupan manusia sebagaimana dikatakan Tri Harso Karyono di atas, maka tidak berlebihan jika peran arsitek itu dapat saya ungkapkan bagi kehidupan sebuah kota sebagai berikut: Arsitek berperan besar dalam menentukan hitam putihnya sebuah kota. Kekeliruan tangan arsitek akan menghancurkan sebuah kota dan berpotensi membuat kota itu menjadi kota setan.

Semakin krusial peranan suatu profesi dalam masyarakat, semakin penting pula profesi itu merumuskan etosnya, menegakkan etos itu, dan menghukum anggota profesi yang melanggarnya. Hanya dengan demikian sebuah profesi punya tempat yang terhormat dalam masyarakat. Sejumlah profesi sudah melakukannya: dokter, wartawan, dan pengacara. Ciri khasnya: mereka punya asosiasi profesi, dan dalam tubuh asosiasi itu terdapat sebuah dewan kehormatan sebagai mahkamah tertinggi dalam penegakan etos profesi itu. 

Sekarang, marilah kita bahas serba sedikit tentang etos ini. Dengan memeriksa kamus-kamus, kita akan menemukan bahwa etos adalah sebuah kata yang memiliki banyak makna, antara lain: (a) esprit d’corps; (b) karakter, keyakinan, dan hakikat moral dari seseorang, sekelompok orang, atau sebuah institusi; (c) kode perilaku suatu perusahaan yang menentukan cara bagaimana mereka memperlakukan karyawannya, pelanggannya, lingkungannya, serta tanggungjawab-tanggungjawab legalnya; (d) spirit khas suatu budaya atau era; dan masih banyak lagi. 

Tapi untuk keperluan seminar ini saya memilih mendefinisikan etos sebagai sebuah rumusan yang disepakati bersama tentang apa yang dianggap paling penting oleh sekelompok orang untuk pekerjaan (profesi) yang mereka jalankan, dan perilaku apa yang dituntut untuk mencapai hal paling penting tersebut, termasuk apa-apa yang tidak boleh dilanggar dalam pelaksanaan pekerjaan atau profesi tersebut. 

Inilah definisi etos profesi yang dapat berlaku umum untuk semua profesi seperti keguruan, kedokteran, kehakiman, kependetaan, kewartawanan, kemiliteran, kepengacaraan, dan kearsitekan.

Dan hari ini kita berbicara tentang etos kearsitekan atau etos arsitek. 

Ketika kota dirumuskan oleh panitia seminar ini -– yang notabene terdiri dari sejumlah arsitek muda yang idealis, kreatif, dan berwawasan luas -– sebagai (1) sebagai sebuah simbolisme kosmik, (2) sebagai manisfestasi spiritualitas manusia, (3) sebagai biosfer hidup yang berkelimpahan, (4) sebagai ekosistem pengembangan manusia, (5) sebagai mandala penciptaan karya-karya yang estetik, (6) sebagai wilayah kerja yang produktif, dan (7) keragaman sosial budaya manusia urban; harus diakui bahwa aspirasi ini adalah sebuah rumusan yang ideal, luhur, dan menyeluruh. 

Dengan mengandaikan bahwa konsep kota di atas sekarang diterima dan dianggap sangat penting oleh komunitas arsitek di negeri ini, maka dalam bahasa etos, idealisme tentang kota di atas – di tingkat perilaku kerja – dapat saya rumuskan sebagai berikut: 

Etos 1: Kota adalah simbolisme kosmik; maka arsitek profesional wajib merancang, membangun, dan mengembangkan kota yang mengingatkan warganya bahwa kota sebagai ruang kehidupan adalah bagian dari kosmos ciptaan Tuhan yang mempunyai desain, keteraturan, keluasan, keagungan, dan keindahan.

Etos 2: Kota adalah manisfestasi spiritualitas manusia; maka arsitek profesional wajib merancang, membangun, dan mengembangkan kota yang mampu membuat seluruh warganya merasa terhubungkan satu sama lain, yang merasa menyatu dengan lingkungannya, serta memetik makna, identitas, dan kebanggaan daripadanya sehingga menumbuhkan rasa cinta pada kotanya.

Etos 3: Kota adalah biosfer hidup yang berkelimpahan; maka arsitek profesional wajib merancang, membangun, dan mengembangkan kota yang lapang, longgar, lancar, bersih, hijau, berlimpah dengan air segar dan udara murni, serta bebas dari sampah maupun limbah.

Etos 4: Kota adalah ekosistem bagi pertumbuhan manusia yang sehat; maka arsitek profesional wajib merancang, membangun, dan mengembangkan kota yang cukup ruang untuk bermukim, bekerja, belajar, bermain, berekreasi, beribadah, berolahraga, berkesenian, dan berkebudayaan.

Etos 5: Kota adalah mandala penciptaan karya-karya yang estetik; maka arsitek profesional wajib merancang, membangun, dan mengembangkan kota yang secara keseluruhan dinilai sebagai indah, termasuk bagian-bagiannya, unit-unitnya, dan detail-detailnya sehingga mampu memuaskan cita rasa seluruh warga kota secara sensual-indrawi, intelektual-karsawi, dan spiritual-rohani.

Etos 6: Kota adalah lapangan kerja yang produktif; maka arsitek profesional wajib merancang, membangun, dan mengembangkan kota yang mampu menyediakan ragam mata pencaharian bagi segenap warganya: dari jenis pekerjaan yang cuma mengandalkan otot, keringat, dan fisik sampai jenis pekerjaan yang mengandalkan imajinasi, kreativitas, dan inovasi.

Etos 7: Kota adalah wahana keragaman sosial-budaya manusia urban; maka arsitek profesional wajib merancang, membangun, dan mengembangkan kota yang mampu menyediakan ruang untuk ekspresi keragaman sosial-budaya itu, interaksi sinergis dalam pluralisme itu, serta kultur apresiatif dalam kebhinekaan itu.

Sebenarnya, tim perumus etos profesi haruslah orang dalam profesi itu. Demikian pula etos arsitek haruslah dirumuskan oleh para arsitek sendiri. Orang seperti penulis makalah ini -- meski pun sering dijuluki oleh media sebagai mister etos atau guru etos -- paling banter bisa berperan sebagai konsultan.

Sebagai penutup, izinkanlah saya meninggalkan sebuah saran: panitia seminar ini perlu sesegera mungkin berkoordinasi dengan Ikatan Arsitek Indonesia guna merumuskan sehimpunan etos arsitek yang luhur, menyeluruh, inspirasional, dan motivasional sehingga pada satu waktu nanti kita akan melihat semua kota di republik ini sungguh-sungguh menjadi kota yang “gemah ripah loh jinawi, tata tentrem karta raharja”. 

Apa yang saya rumuskan di atas adalah suatu percobaan dan harus dianggap sebagai sebuah masukan saja. 

Terimakasih dan selamat berseminar.

Sunday, November 1, 2009

Bermimpi adalah Hak Segala Bangsa


Oleh Jansen H. Sinamo
(Dimuat di Harian Kompas, Minggu 25 Oktober 2009)



Tidak hanya kemerdekaan merupakan hak segala bangsa. Impian pun demikian. Akan tetapi, bukan mimpi sembarang mimpi, bunga tidur yang terlupakan saat fajar menyingsing.

Impian besar mampu memotivasi segenap warga negara untuk bekerja keras. Mimpi agung yang memandu penduduk dengan nilai-nilai luhur yang membenam sakral di dalam impian itu. Mimpi akbar yang menyatukan mereka dalam satu nasionalisme mulia seraya mentransendensikan semua perbedaan mereka: ras, suku, etnis, agama, kultur, kelas, dan golongan. Mimpi yang kemudian meluluhkan mereka bersama dalam suatu rasa kebangsaan yang kompak dan bergetar-getar di sekujur tubuh bangsa itu.

Kini, Indonesia tidak lagi kompak bersatu persis karena mimpi agung itu telah berpendar semakin pudar. Entah kapan mulainya, virus sektarianisme meruyak dalam tubuh bangsa ini. Kita kerap bertikai, bertengkar, dan menghabiskan energi sehingga cita-cita Indonesia merdeka yang adil dan makmur semakin terasa bagai utopia kosong belaka.

Jangankan dengan Korea, China, dan India yang semakin jauh melaju, bahkan dengan Vietnam dan Malaysia pun kita semakin tertinggal. Tetangga yang disebut terakhir ini pun terasa semakin berani ”lancang dan kurang ajar”.

Reformulasi Pancasila


Situasi ini bukan mustahil semakin buruk. Contoh Yugoslavia yang telah bubar bisa terjadi di sini jika sesama elemen bangsa semakin tak bisa saling percaya; kecurigaan dan ketakutan berbasis suku-agama-ras-antargolongan (SARA) dibiarkan berkobar memecah belah, pengingkaran hakikat keindonesiaan yang Bhinneka Tunggal Ika berlangsung banal. Apalagi, jika kebiasaan buruk dalam praktik bernegara dipertontonkan terus: korupsi, kolusi, dan kompromi membiarkan diskriminasi, kebodohan, dan kezaliman semakin merajalela.

Kesatuan teritorial yang dimiliki sama sekali tidak memadai sebagai pengikat, seperti dibuktikan bekas Uni Sovyet. Hal ini sekaligus menegaskan, kita memerlukan sesuatu yang lebih fundamental: mimpi besar bersama yang memuat konsepsi, persepsi, perasaan, dan harapan kolektif tentang keindonesiaan kita yang baru.

Di atas fundamen inilah kemudian kita harus memperkuat demokrasi, memperbaiki kualitas pendidikan nasional dan mempertinggi pengetahuan masyarakat, serta membiakkan inovasi di segala bidang sehingga Indonesia bergerak pasti ke arah sosok bangsa maju: berketahanan, berkeunggulan, dan berkemenangan. Berkemenangan artinya sukses memerangi kemiskinan, kebodohan, korupsi, dan diskriminasi sehingga terwujudlah Indonesia yang adil, makmur, berwibawa, dan bermartabat di mata dunia.

Demikianlah ringkasan isi buku The Indonesian Dream: The Pursuit of a Winning Nation. Penulisnya, Elwin Tobing, seorang profesor ekonomi yang kini mengajar di Azusa Pacific University, California.

Tercium aroma Pancasila? Tidak salah. ”The Indonesian Dream adalah suatu reformulasi modern Pancasila, lebih catchy dan dinamis, tetapi tetap sederhana,” ujar Tobing pada peluncuran buku ini di Jakarta, 4 September 2009.

Profesor muda yang lahir 16 April 1968 di Tarutung, Sumatera Utara, ini secara personal tentu bisa menghayati Impian Indonesia yang dia gagas. Dengan bermodalkan kerja keras, semangat akbar, dan impian agung—di tengah keserbakekurangan yang khas sebuah keluarga Batak—ia telah membuktikan bisa menembus IPB Bogor melalui jalur PMDK. Bahkan hingga ke Amerika Serikat: Northeastern University, University of Iowa, Harvard Business School, California State University Fullerton, dan Azusa Pacific University.

Tentu terbayang dalam benaknya, dari seluruh pelosok negeri dengan Impian Indonesia ratusan juta generasi muda akan mencetak prestasi masing-masing demi Indonesia.

Aktualisasi mimpi

Jadi, Indonesia memang perlu bermimpi lagi. Tepatnya, impian lama yang harus diaktualisasikan ulang, diperbarui dan diperkaya, dibikin hidup dan berdaya. Kita memerlukan mimpi segar yang sanggup mempersatukan putra-putri Indonesia dengan berkeinginan kuat akan suatu kehidupan nasional yang secara kualitatif berbeda dengan yang sekarang.

Seorang Ketut di Bali atau Bambang di Jawa, Ucok di Medan atau Pingkan di Manado, Usman di Aceh atau Bram di Papua, sebagai manusia-manusia baru Indonesia yang bernaluri, bernurani, dan bernalar sehat, pasti memiliki cita-cita akan kehidupan lebih baik, menyangkut kehidupan ekonomi, sosial, politik, kebudayaan, dan peradaban bangsa ini dalam konteks dunia terkini. Tobing membayangkan, meski mereka bhinneka secara SARA, tetapi tunggal ika secara impian keindonesiaan.

Tobing secara khusus menekankan strategisnya arti impian (dream) sebagai bentuk sublim Pancasila. Suatu ketika Soekarno pernah mereduksi Pancasila menjadi gotong-royong. Tetapi gotong-royong yang sifatnya kolektif itu menomorduakan kontribusi partikular para individu anggotanya. Juga sifatnya lebih statis karena kegotongroyongan mengerjakan sesuatu bisa selesai ketika pekerjaan itu rampung.

Sebaliknya, impian adalah konsep bersifat terus-menerus sehingga lebih dinamis. Karena itu, menurut Tobing, Impian Indonesia yang juga boleh diterjemahkan menjadi Cita-cita Indonesia secara kualitatif akan lebih mampu mempersatukan manusia-manusia modern Indonesia dibandingkan dengan ungkapan lama yang sudah lapuk sehingga kehilangan geregetnya itu.

Beberapa nilai dasar Indonesian Dream juga turut dijelaskan dalam buku ini, termasuk kejujuran, kerja keras, respek terhadap satu sama lain, tanggung jawab, dan ketangguhan. Pokoknya sehimpunan perilaku unggul yang biasa digolongkan sebagai etos profesional.

Untuk memajukan negeri ini di tengah zaman global yang penuh persaingan ketat dengan ilmu pengetahuan sebagai dasar untuk bisa sintas bahkan menang, Indonesia juga butuh paradigma yang menjadi kerangka berpikir, bersikap, merasa, dan bertindak bagi setiap insan Indonesia. Bukankah bangsa yang tangguh dibangun oleh individu-individu warga yang tangguh? Kembali di sini Indonesian Dream tampil esensial ketika difungsikan sebagai paradigma.

Kehadiran buku ini sungguh tepat waktu tatkala kabinet baru segera bertugas dan legislatif di seantero negeri mulai bekerja. Profesor Tobing tampak mempersembahkan bukunya bagi para punggawa republik yang semakin dia cintai justru ketika ia hanya bisa memandangnya dari seberang Pasifik. Ini mirip dengan Bung Hatta dan kawan-kawan dalam Perhimpunan Indonesia ketika menggagas Indonesia Merdeka di Belanda hampir seratus tahun lalu.

Hanya satu kekurangan buku ini: ia berbahasa Inggris, jadi jelas elitis. ”Tapi jangan khawatir,” kata Tobing, ”Saya akan pulang ke Indonesia untuk meluncurkan edisi bahasa Indonesia pada awal 2010.”

(Jansen H Sinamo Penulis buku Delapan Etos Kerja Profesional, tinggal di Jakarta)